Sahabat, di malam pergantian tahun apa saja yang terpikir olehmu? Mungkin sebuah perencanaan, evaluasi atau apapun yang itu akan berguna untuk tahun-tahun berikutnya. Begitu yang sering terjadi diantara kita. Tetapi malam itu, tepatnya 1 Muharram 1434 H yang terlintas di pikiran saya justru perjalanan masa kecil yang penuh warna. Masa-masa penuh perjuangan bersama bapak dan ibu di kampung. Di tempat yang ketika itu sangat jauh dari peradaban, tidak ada televisi kecuali di rumah orang-orang kaya, tak ada internet, listrik pun baru masuk ketika saya kelas 6 SD. Hingga akhirnya Allah memperjalankan saya ke pinggiran kota, kemudian ke Yogyakarta dan sekarang di negeri empat musim ini. Sementara teman-teman sepermainan saya masih banyak yang tinggal di kampung bergelut dengan sawah dan ternaknya. Saya merasa diingatkan, bahwa Allah pasti punya tujuan atas perjalanan panjang ini.
Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu apa saja yang akan terjadi di masa depan. Kadang Allah pergilirkan suka dan duka dalam kehidupan manusia. Allah memilih siapa saja yang dikehendakinya untuk bisa mendekatkan diri padaNya. Kasih Sayang Allah pun beranekaragam bentuknya, tidak seorang pun yang diberi dengan kadar yang sama, melainkan sesuai kehendakNya. Sayangnya kita seringkali mengeluh atas kesedihan, kesusahan atau kesempitan yang sementara. Seringpula hati terfokus pada urusan yang kecil dan melupakan urusan yang besar. Begitu pula yang sering terjadi pada saya, Astagfirullah...
Kadang manusia mengiba, mengapa semua ini terjadi padanya, sementara yang lain tidak. Padahal dia tidak pernah tahu rencana besar yang sudah disiapkan Allah untuknya. Andai mereka tahu bahwa ada kebaikan yang lebih besar setelahnya mungkin ia tak kan mengeluh. Namun begitulah keagunganNya untuk menguji siapa saja yang terbaik di hadapanNya. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari setiap perjalanan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar