Menyentuh hati agar mampu memaknai, bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Senin, 06 Maret 2017

The Journey of Learning part 1

Alhamdulillah, akhirnya berjodoh. Syukur tiada kira saat dapat email diterima bergabung di kursus ini. Kursus untuk guru dan calon guru yang katanya berstandar tinggi. Saya sempat kagum waktu lihat daftar materinya yang banyak. Nggak yakin juga bisa bergabung. Tetapi saya lebih suka melangkah dan bertawakal dengan hasilnya.

Pendidikan di UK memang bagus, termasuk kursus-kursusnya sekalipun. Tetapi untuk dapat kursus yang menunjang karir secara professional, jalannya cukup panjang. Banyak tahapannya :) Bahkan untuk mendapatkan informasinya pun harus telaten nyari sendiri. Karena sepertinya para pengelola hanya akan melempar bola, jika butuh datang dan gali sendiri. Yah, minimal itu pengalaman saya selama ini. Tetapi mereka sangat membantu jika kita serius.

Apapun itu, alhamdulillah bisa juga bergabung. Sebagai rasa syukur saya ingin menuliskan sebagian dari pengalaman di kelas ini. Setidaknya sebagai catatan untuk saya pribadi dan mudah-mudahan juga berguna bagi teman-teman yang lain. 

Kemarin, Senin 6 Maret 2017 hari pertama masuk, saya datang pas banget jam masuk. Padahal pinginnya datang lebih awal tapi berhubung harus nyari lokasi dan saya bukan tipe orang yang pinter nyari lokasi, bisa ketemu dan tepat waktu sudah bagus:)

Begitu masuk ruangan, saya disambut hangat oleh guru dan beberapa teman yang sudah hadir. Agak deg-degan tapi bismillah aja. Saya diminta untuk menempelkan nama sbg tanda pengenal dan mengambil koin (uang recehan) yang sudah disediakan. Buat apa ya uang recehan? Manut saja, saya ambil recehan 10p.

Tak lama kemudian kelas pun dimulai. Tidak ada perkenalan secara khusus. Hanya guru saja yang mengenalkan diri. Selanjutnya kami diminta melihat tahun yang ada pada koin masing-masing, kemudian menceritakan sesuatu tentang pengalaman pribadi di tahun itu. Jika tidak ada yang bisa diceritakan (di tahun tersebut), boleh tukar dengan koin yang lain.

Dalam kegiatan ini guru tidak meminta atau menunjuk peserta, siapa mau duluan dia boleh bercerita, Saya dapat koin tahun 1989. Diam, hanya itu yang saya lakukan diawal. Wajah-wajah British di depan saya cukup bikin grogi rupanya. Apalagi kami duduk mengelilingi meja besar. Nampak sekali wajah-wajah matang mereka. Saya seperti terjebak, tetapi akhirnya bisa juga bicara, walau diurutan ke 4 kalau tidak salah. Saya bercerita tentang masa kecil di tahun itu. Lega akhirnya bisa ngomong ala-ala lupakan tenses. Coba dalam bahasa Indonesia, mungkin saya sudah bercerita panjang lebar :)

Guru bertanya pada kami, apa manfaat dari cara perkenalan seperti ini? Jawabannya standar, biar lebih dekat, rilex dan sebagainya. Saya sendiri merasa cara ini cukup asyik dibanding hanya menyebutkan nama dan asal.

Pelajaran lanjut menuliskan exception, hope and fear dalam mengikuti kursus ini. Cara ini bagian dari cara memetakan pencapaian kelas. Materi utama di pertemuan pertama ini adalah ice breaker. Para peserta diminta menceritakan successful ice breaker dan unsuccessful ice breaker. Ceritanya lucu-lucu dan games yang pernah mereka lakukan ternyata banyak sekali. Dari sana saya tahu, hampir semua peserta sudah berpengalaman menjadi tenaga pendidik. Awalnya diskusi kami dilakukan di kelompok kecil, kemudian baru dibahas bersama di kelas.

Guru kami bercerita, salah satu kegagalannya dalam games yang pernah dijalaninya. Cara bermainnya begini, 
        Ada sebuah kapal di lautan yang hanya bisa menampung 6 orang. Tetapi orang yang perlu diselamatkan ada 8 orang. Mereka harus memilih dua orang untuk ditenggelamkan atau mereka akan tenggelam semuanya. Jumlah orang tersebut sesuai dengan jumlah peserta di tempatnya mengajar. Dari game ini ternyata ada dua orang yang akhirnya berkelahi. Marahan sungguhan. Diluar perkiraan sang guru. Kemudian guru kami menjelaskan pentingnya bikin guideline di kelas untuk membuat semua proses belajar dapat berjalan dengan baik. Kami pun diskusi lagi tentang hal ini.

Di sesi diskusi kali ini, karena sejak awal banyak bicara semua orang mau bicara. Jadilah saya dan salah seorang peserta mengalami kesulitan untuk berbicara :) tiap mau ngomong eh tersahut yang lain. Bukan tidak mau mencoba, ini beneran susah dipotong. Teman-teman se grup dengan saya memang saling memotong pembicaraan, walaupun kadang diselingi kata sorry. Saya nggak bisa seberani itu, nurani saya mengatakan itu nggak sopan. Memang sih pengalaman mereka banyak. Akhirnya ya udah deh nyimak saja. Walaupun agak sedikit kecewa karena artinya saya akan kembali jd pendiam di sesi diskusi. Eh rupanya guru kami melihat jalannya diskusi di kelompok saya. Tetapi beliau hanya memperhatikan tanpa menyela.

Memang sudah iklimnya belajar di sini, kalau mau berpendapat ya berpendapat saja jadi tidak heran kalau sesi diskusi banyak yang berbicara. Tetapi untuk sesi kedua ini, yang memang pesertanya beda dengan sesi pertama agak beda. Kalau udah gini saya jd inget guru kami yang kata teman-teman saya agak galak. Tapi saya suka, soalnya disuka menegur peserta yang berlebihan bicara dan memastikan semua peserta menyampaikan pendapatnya. Dia bisa menumbuhkan kepercayaan diri para peserta di kelas. 

Kembali ke kelas kami, akhirnya di forum pembahasan, guru kami menjelaskan agar peserta berbicara sesuai dengan porsinya, tidak terlalu banyak bicara dan juga tidak terlalu diam. Memberi kesempatan kepada semua peserta untuk bicara. Beri jeda setelah selesai bicara agar ide-ide dari yang lain juga tidak hilang karena tidak diberi waktu. Beliau sempat memberi perhatian khusus ke saya :) Guru kami sepertinya tahu kalau saya sudah mencoba tetapi kalah cepat :) Teman-teman se grup dengan saya pun sepertinya menyadari. Alhamdulillah..

Habis sesi ini kami jeda sejenak. Ngeteh, ngopi, ngobrol.

Setelah istirahat dilanjutkan membahas brainstrom sama reflective learning journal. Kata guru kami dua hal ini akan banyak kami lakukan di tugas-tugas selanjutnya. Hari sudah gelap, sesi pun ditutup dengan PR, membuat reflection learning journal khusus sesi hari ini.

Alhamdulillah, semoga saya bisa bikin dengan baik. Abaikan grammar yang masih alakadut,
yang penting nyoba dulu. Doain ya sukses dan bisa berguna ilmunya, Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar