Menyentuh hati agar mampu memaknai, bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Senin, 06 Maret 2017

The Journey of Learning part 1

Alhamdulillah, akhirnya berjodoh. Syukur tiada kira saat dapat email diterima bergabung di kursus ini. Kursus untuk guru dan calon guru yang katanya berstandar tinggi. Saya sempat kagum waktu lihat daftar materinya yang banyak. Nggak yakin juga bisa bergabung. Tetapi saya lebih suka melangkah dan bertawakal dengan hasilnya.

Pendidikan di UK memang bagus, termasuk kursus-kursusnya sekalipun. Tetapi untuk dapat kursus yang menunjang karir secara professional, jalannya cukup panjang. Banyak tahapannya :) Bahkan untuk mendapatkan informasinya pun harus telaten nyari sendiri. Karena sepertinya para pengelola hanya akan melempar bola, jika butuh datang dan gali sendiri. Yah, minimal itu pengalaman saya selama ini. Tetapi mereka sangat membantu jika kita serius.

Apapun itu, alhamdulillah bisa juga bergabung. Sebagai rasa syukur saya ingin menuliskan sebagian dari pengalaman di kelas ini. Setidaknya sebagai catatan untuk saya pribadi dan mudah-mudahan juga berguna bagi teman-teman yang lain. 

Kemarin, Senin 6 Maret 2017 hari pertama masuk, saya datang pas banget jam masuk. Padahal pinginnya datang lebih awal tapi berhubung harus nyari lokasi dan saya bukan tipe orang yang pinter nyari lokasi, bisa ketemu dan tepat waktu sudah bagus:)

Begitu masuk ruangan, saya disambut hangat oleh guru dan beberapa teman yang sudah hadir. Agak deg-degan tapi bismillah aja. Saya diminta untuk menempelkan nama sbg tanda pengenal dan mengambil koin (uang recehan) yang sudah disediakan. Buat apa ya uang recehan? Manut saja, saya ambil recehan 10p.

Tak lama kemudian kelas pun dimulai. Tidak ada perkenalan secara khusus. Hanya guru saja yang mengenalkan diri. Selanjutnya kami diminta melihat tahun yang ada pada koin masing-masing, kemudian menceritakan sesuatu tentang pengalaman pribadi di tahun itu. Jika tidak ada yang bisa diceritakan (di tahun tersebut), boleh tukar dengan koin yang lain.

Dalam kegiatan ini guru tidak meminta atau menunjuk peserta, siapa mau duluan dia boleh bercerita, Saya dapat koin tahun 1989. Diam, hanya itu yang saya lakukan diawal. Wajah-wajah British di depan saya cukup bikin grogi rupanya. Apalagi kami duduk mengelilingi meja besar. Nampak sekali wajah-wajah matang mereka. Saya seperti terjebak, tetapi akhirnya bisa juga bicara, walau diurutan ke 4 kalau tidak salah. Saya bercerita tentang masa kecil di tahun itu. Lega akhirnya bisa ngomong ala-ala lupakan tenses. Coba dalam bahasa Indonesia, mungkin saya sudah bercerita panjang lebar :)

Guru bertanya pada kami, apa manfaat dari cara perkenalan seperti ini? Jawabannya standar, biar lebih dekat, rilex dan sebagainya. Saya sendiri merasa cara ini cukup asyik dibanding hanya menyebutkan nama dan asal.

Pelajaran lanjut menuliskan exception, hope and fear dalam mengikuti kursus ini. Cara ini bagian dari cara memetakan pencapaian kelas. Materi utama di pertemuan pertama ini adalah ice breaker. Para peserta diminta menceritakan successful ice breaker dan unsuccessful ice breaker. Ceritanya lucu-lucu dan games yang pernah mereka lakukan ternyata banyak sekali. Dari sana saya tahu, hampir semua peserta sudah berpengalaman menjadi tenaga pendidik. Awalnya diskusi kami dilakukan di kelompok kecil, kemudian baru dibahas bersama di kelas.

Guru kami bercerita, salah satu kegagalannya dalam games yang pernah dijalaninya. Cara bermainnya begini, 
        Ada sebuah kapal di lautan yang hanya bisa menampung 6 orang. Tetapi orang yang perlu diselamatkan ada 8 orang. Mereka harus memilih dua orang untuk ditenggelamkan atau mereka akan tenggelam semuanya. Jumlah orang tersebut sesuai dengan jumlah peserta di tempatnya mengajar. Dari game ini ternyata ada dua orang yang akhirnya berkelahi. Marahan sungguhan. Diluar perkiraan sang guru. Kemudian guru kami menjelaskan pentingnya bikin guideline di kelas untuk membuat semua proses belajar dapat berjalan dengan baik. Kami pun diskusi lagi tentang hal ini.

Di sesi diskusi kali ini, karena sejak awal banyak bicara semua orang mau bicara. Jadilah saya dan salah seorang peserta mengalami kesulitan untuk berbicara :) tiap mau ngomong eh tersahut yang lain. Bukan tidak mau mencoba, ini beneran susah dipotong. Teman-teman se grup dengan saya memang saling memotong pembicaraan, walaupun kadang diselingi kata sorry. Saya nggak bisa seberani itu, nurani saya mengatakan itu nggak sopan. Memang sih pengalaman mereka banyak. Akhirnya ya udah deh nyimak saja. Walaupun agak sedikit kecewa karena artinya saya akan kembali jd pendiam di sesi diskusi. Eh rupanya guru kami melihat jalannya diskusi di kelompok saya. Tetapi beliau hanya memperhatikan tanpa menyela.

Memang sudah iklimnya belajar di sini, kalau mau berpendapat ya berpendapat saja jadi tidak heran kalau sesi diskusi banyak yang berbicara. Tetapi untuk sesi kedua ini, yang memang pesertanya beda dengan sesi pertama agak beda. Kalau udah gini saya jd inget guru kami yang kata teman-teman saya agak galak. Tapi saya suka, soalnya disuka menegur peserta yang berlebihan bicara dan memastikan semua peserta menyampaikan pendapatnya. Dia bisa menumbuhkan kepercayaan diri para peserta di kelas. 

Kembali ke kelas kami, akhirnya di forum pembahasan, guru kami menjelaskan agar peserta berbicara sesuai dengan porsinya, tidak terlalu banyak bicara dan juga tidak terlalu diam. Memberi kesempatan kepada semua peserta untuk bicara. Beri jeda setelah selesai bicara agar ide-ide dari yang lain juga tidak hilang karena tidak diberi waktu. Beliau sempat memberi perhatian khusus ke saya :) Guru kami sepertinya tahu kalau saya sudah mencoba tetapi kalah cepat :) Teman-teman se grup dengan saya pun sepertinya menyadari. Alhamdulillah..

Habis sesi ini kami jeda sejenak. Ngeteh, ngopi, ngobrol.

Setelah istirahat dilanjutkan membahas brainstrom sama reflective learning journal. Kata guru kami dua hal ini akan banyak kami lakukan di tugas-tugas selanjutnya. Hari sudah gelap, sesi pun ditutup dengan PR, membuat reflection learning journal khusus sesi hari ini.

Alhamdulillah, semoga saya bisa bikin dengan baik. Abaikan grammar yang masih alakadut,
yang penting nyoba dulu. Doain ya sukses dan bisa berguna ilmunya, Insya Allah.

Kamis, 16 Juni 2016

Beri Kepercayaan Pada Diri Sendiri

Kita sering mendengar anjuran untuk berprasangka baik pada orang lain. Itulah bentuk dari ukhuwah pada sesama. Tetapi bagaimana dengan kepercayaan, prasangka baik dengan diri sendiri? Perlukan ia diterapkan? Apakah nantinya tidak menimbulkan kesombongan atau pemakluman atas kelalaian sendiri.

Hal semacam itu mungkin saja terjadi. Banyak orang yang mengganggap dirinya baik sehingga tidak dapat berpindah dari 'tempat'nya. Mengkambinghitamkan hal lain demi mendapat rasa aman pada diri. Tetapi memberi kepercayaan pada diri sendiri yang saya maksud berbeda dengan hal yang satu ini. Langkah tersebut adalah bagian dari upaya di atas berhusnudzan kepada Allah. Mengapa diperlukan?

Walau telah kehiangan kelopaknya ia masih dapat terlihat indah
Berapa banyak orang terpuruk dan gagal dalam impiannya karena mereka kehilangan semangat dan daya juangnya. Mereka lelah karena menganggap diri sebagai orang yang gagal, tidak mampu dan seterusnya. Padahal kita tahu bahwa setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangan. Tidak mungkin Allah hanya melekatkan kekurangan tanpa kelebihan. Di samping terlepasnya satu peluang tersebar kesempatan lain di luar sana.

Memberi kepercayaan pada diri merupakan hal yang penting. Cara ini dapat menjaga semangat dan optimis dalam menjemput kebaikan baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Kegagalan atau tertunda keberhasilan adalah hal yang wajar. Hak Allah untuk mewujudkannya di waktu yang tepat. Karenanya jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, selama sudah maksimal berikhtiar. Muarakan semua aktivitas karenaNya sehingga tak ada sedikit pun yang sia-sia.

Lelah dan merasa sangat jauh dari Allah itu hal yang normal. Karena iman sesekali naik turun. Sesekali maafkanlah dirimu. Selagi tak ada hal yang melanggar laranganNya. Saat ibadah makin berat, banyak-banyaklah istighfar. Percayalah bahwa ia hanya sebentar dan akan memompa semangat yang lebih besar.

Bayangkan jika hanya terpuruk dan menyalahkan keadaan. Bukan bangkit yang didapat yang terjadi justru semakin terpuruk sehingga sulit untuk bangkit. Bahkan bukan tidak mungkin akan mencari berbagai alasan untuk melindungi diri sendiri.

Boleh jadi sebuah kejadian adalah peringatan, tetapi biarlah ia menjadi pelajaran kemudian menjadi penyemangat. Biarkan kepercayaan kepada kasih sayang Allah berpadu dengan kepercayaan pada diri sendiri. Rasakan bahwa Allah memelukmu lebih dekat. Sehingga kebahagiaan, ketenangan dan kedekatan dengan Allah senantiasa membersamai kehidupan kita. Wallahu a'lam.

Selasa, 08 September 2015

Memaafkan Membuatmu Makin Mulia

Memaafkan, mungkin saja akan dipengaruhi oleh pengalaman seseorang. Ada banyak hal yang dianggap sepele oleh orang lain namun ternyata begitu berarti bagi yang lainnya. Kesenjangan seperti inilah yang seringkali menjadi konflik bagi sebagian orang yang kemudian sulit untuk dimaafkan. Dan kejadian itu pun saya rasakan beberapa waktu lalu.

Waktu itu di sebuah mini market. Saya sedang antri dengan seorang konsumen di meja kasir. Tiba-tiba saja dengan seenaknya, seorang bapak nyerobot antrian. Langsung saja meletakkan belanjaannya yang banyak tepat di hadapan saya. Sementara saya sudah mengantrikan belanjaan saya sejak beberapa waktu lalu. Dia seorang muslim. Tahu reaksi saya saat itu? Jengkel banget nget..padahal hal semacam ini biasa saja bagi saya kalau terjadi di Indonesia. Tapi di sini, standar saya berbeda. Saya merasa sangat jengkel dengan si bapak ini. Maklum di sini sangat menjunjung tinggi budaya antri mau tidak mau itu pun sudah menjadi bagian yang juga saya terapkan. Minimal di negara ini :) semoga berlanjut di tempat lain..

Yang terpikir saat iti, kesal banget sama si bapak. Harusnya kan dia antri seperti yang lain. Kebayang kan kalau yang diserobot antriannya adalah bule. Yang bakal kena tentu identitas muslimnya. Hal itulah yang membuat saya begitu jengkel ditambah marah betulan :) karena rasa jengkel itulah saya enggan memandang si bapak. 

Tidak berhenti di situ. Karena mini market cukup ramai, akhirnya seorang kasir lain meminta konsumen yang berbaris panjang untuk mengantri padanya. Nah si bapak ini dengan mudahnya meminta saya untuk antri di kasir yang barusan di buka. Yah...sudah bisa ditebak kan bagaimana sikap saya. Masih dengan dongkol saya pun menolak tapi alhamdulillahnya masih dengan suara biasa, tapi tanpa mau menoleh ke arahnya. Habis mata ini bakal kebaca kalau udah marah banget. 

Tak lama kemudian istri si bapak yang berada di belakangnya berkata sesuatu. Entah apa karena memang tidak memakai bahasa Inggris, Sepertinya ngomongin saya (sok tahu, nebak-nebak). Beberapa detik kemudian si bapak meminta kasir di depan kami untuk mendahulukan saya. Dari cara bicaranya ia benar-benar ingin saya didahulukan sebelum dia walaupun belanjaan dia sudah nongkrong di dekat kasir sejak beberapa waktu lalu. Kebetulan pembeli di depan saya pun punya belanjaan banyak sehingga harus lama menunggu.

Saya pun sedikit lega, akhirnya setelah menyelesaikan pembayaran saya keluar dari tempat itu tanpa menoleh ke arah si bapak.

Sepanjang perjalanan ke rumah saya mengevalusi apa yang sudah saya lakukan. Saya mencoba memposisikan diri sebagai si bapak tadi. Dia mungkin punya alasan mengapa menyerobot antrian. Walaupun saya tidak membenarkan, setidaknya saya harus mengerti pastilah ada alasan dibalik semua itu. Memang dia telah melakukan kesalahan tapi dia juga telah berupaya memperbaikinya dengan mendahulukan saya. Setidaknya si bapak telah melakukan perbaikan atas kesalahannya. Saya menyesal, mengapa tidak mengucapkan terimakasih ketika si bapak yang telah memberikan kesempatan itu walaupun itu sudah menjadi hak saya.

Secara sekilas memang hak saya untuk didahulukan, tapi seharusnya saya menghargai upaya si bapak untuk memperbaiki kesalahannya. Seandainya hal serupa terjadi pada saya dengan kesalahan yang berbeda, bukankah saya juga ingin dimaafkan? Alangkah sedihnya jika orang lain tidak memaafkan. Bukankan memaafkan itu sangat mulia. Tidak akan ada ruginya memaafkan orang lain toh kita juga butuh dimaafkan. Barangkali memaafkan bisa menjadi menjadi pelajaran berharga bagi orang lain. Bukankah Rasulullah mengajarkan akhlak yang mulia dalam diri seorang muslim. Menebarkan kebaikan pun harus dengan kasih sayang. Dari kejadian ini saya bisa belajar dan tersadarkan baru sebatas ini akhlak saya. Padahal bisa jadi, ada hikmah di balik semua itu. 

Bukankah amat mudah bagi Allah menjalankan si Bapak untuk menyerobot antrian yang lain. tapi Allah menjalankannya pada saya, tentulah bukan hal yang kebetulan semata. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk saya agar akhlak yang muncul adalah kebaikan di setiap kesempatan. 

Rabu, 19 Agustus 2015

Ibu dan Aneka Rencana

Sudah berapa tahun nih menjadi ibu?Apa saja yang berubah? Mungkin banyak hal. Masihkah para ibu mempunyai rencana untuk masa depannya? Bagaimana ia menjemputnya?.

Terlalu banyak mungkin yang harus diungkapkan jika sudah berbicara mengenai ibu dan seabrek rencana dan aktivitasnya. Eits..jangan terjebak! ternyata tak semua aktivitas ibu merujuk ke rencana yang telah dibuatnya. (pengalaman :)). Namun jangan putus asa dulu, banyak juga ibu yang begitu hebat membingkai hari dengan apik dan rapi.

Saya yakin ada banyak rencana dalam benak setiap ibu, entah itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Meski kadang seorang ibu nampak seperti air yang mengalir dan seolah hidupnya jauh dari rencana. Tapi saya yakin mereka punya banyak mimpi terhadap masa depan. Mimpi akan keluarganya, anak-anak, pendidikan atau bahkan karirnya. Sayangnya tidak semua ibu mampu mewujudkan mimpinya.

Pagi ini, saya kembali diingatkan dengan mimpi-mimpi saya. Begitu banyak waktu dan kesempatan yang terlepas dari langkah untuk menggapai mimpi itu, tidak sepenuhnya. Hanya saja, masih banyak waktu yang belum optimal. Hal semacam ini kadang muncul di beberapa kesempatan, mengingatkan dan sering kali 'memanggil', sayangnya kadang hilang bersama waktu. Kesibukan dirumah yang diatasnamakan kesibukan sebagai ibu sekaligus istri seringkali mengelabuhi diri. Sebenarnya apa yang salah? Benarkah seorang ibu demikian sulit mewujudkan mimpinya? ataukah inilah rangkaian pahala bagi siapa saja yang mampu menjalaninya. Wallahua'lam.

*mulai lagi membangun mimpi

Rencanakan
Lakukan - Belajar- Bertanya- Lakukan-Berdoa
Lakukan- Belajar- Bertanya- Lakukan- Berdoa
Lakukan- Belajar- Bertanya- Lakukan-Berdoa
Evalusi

Bismillah, semangat dan niatkan hanya karenaNya.


Rabu, 31 Desember 2014

Pesona Masjid di Manchester

Lampu di ruang utama
Masjid, memasukinya memberikan ketenangan. Membuat hati-hati yang bersih merindu Rabbnya. Bangunan inilah yang begitu dibanggakan sebagai tempat membangun peradaban. Di sana pusat pendidikan, tempat bermusyawarah, mengkaji dan memperluas ilmu untuk kemajuan pribadi maupun bersama. Sayangnya fungsi masjid yang demikian agung telah banyak mengalami kemunduran.

Kerinduan akan fungsi masjid yang sebenarnya, bukan 'hanya' sebagai tempat ibadah makin sulit ditemui. Banyak masjid yang kini dibatasi bahkan ada diantaranya harus terkunci dan hanya dibuka pada saat-saat tertentu. Siang itu saya dibuat terpesona oleh sebuah masjid di kota Manchester. Sayang lupa namanya. Ketika kami datang, jamaah sholat baru saja usai. Ramai, Alhamdulillah. Di negeri yang umat Islamnya hanya segelintir ini masjid ramai jamaah. Alhamdulillah.




Rasa bahagia itu makin bertambah kala masuk di dalamnya. Kesan modern, ramah, bersih makin terasa. Inilah masjid yang seharusnya, dalam benak saya. Ruang utama terbagi dua sisi, lantai bawah untuk putra dan atas untuk putri. Di belakang ruang utama masih ada ruang besar yang hanya disekat oleh kaca yang memungkinkan untuk sholat berjamaah jika diperlukan atau bisa juga digunakan untuk pertemuan.
kelas-kelas

Di ruang utama terdapat kursi-kursi di bagian pinggir. Kursinya pun nyaman digunakan. Disediakan untuk para jamaah yang barangkali kesulitan untuk sholat sambil berdiri. Karpetnya pun bagus :)
Ruang atas, tempat jamaah putri pun serupa, satu ruang utama disusul ruang bersekat kaca di belakangnya. Hanya saja lebih kecil dari ruang putra. Jamaah putri dapat melihat imam melalui kaca yang didesain sedemikian rupa sehingga para jamaah putri nyaman dan 'selamat' dari penglihatan jamaah putra dibawah.

Lampu-lampu di masjid tersebut dapat menyala jika ada datang dan mati dengan sendirinya jika pengguna meninggalkan ruangan. Keluar dari ruang utama disambut dengan ruang tunggu. Didepannya ada aula besar dilengkapi dengan dapur yang modern. Mungkin ruangan itu bisa digunakan untuk walimah atau sejenisnya. Lengkap dengan panggung, kursi dan sekat yang dapat dipindah-pindah. Ketika kami datang, malamnya katanya ruangan itu baru saja dipakai untuk acara syukuran Milad.
ruang tunggu





Aula
Sementara di sekitar ruang utama putri ada banyak ruang-ruang. Seperti kelas-kelas. Terlihat aktif dengan berbagai tulisan di sekitarnya. Terlihat ada projector di setiap ruangan. Sangat banyak kelasnya dan lengkap seperti ruang kuliah :) Toiletnya bersih dan terjaga. Toilet putri tertutup dalam ruang-ruang. Tempat wudhu pun terpisah di ruang tersendiri. Bahkan ada toilet untuk para mereka yang berkebutuhan khusus. Ada juga ruang mandinya. Sayang, saya tidak menemukan perpustakaannya hanya melihat lemari-lemari kecil berisi buku. Barangkali saya tidak tahu tempatnya,begitu banyak ruang membuat tidak bisa menjelajah seluruhnya.

Awalnya tidak terpikirkan untuk ambil foto, setelah beberapa saat baru sadar. Ada baiknya mengabadikan siapa tahu kelak di Indonesia tercinta ada yang bisa membangun masjid secantik ini.
Yang mau ke Manchester sempatkan untuk berkunjung :)

Sabtu, 27 Desember 2014

Waspada dengan Kolong Tempat Tidur

Mengingat kejadian itu, saya sangat-sangat bersyukur pada Allah yang telah menjaga kami. Entah apa yang akan terjadi jika Allah tidak membukakan semuanya. 

Malam itu, beberapa tahun lalu saat saya masih duduk di Sekolah Dasar, seperti kebiasaan giliran bapak harus keluar rumah. Menjajakan dagangan sederhananya di desa lain yang sedang ada hajatan. Kegiatan ini memang rutin dilakukan bapak untuk menjemput rezeki yang lebih baik bagi keluarga. Pulangnya biasanya pagi hari menjelang subuh. Kadang kami, saya, ibu dan adik merasa khawatir ditinggal bapak karena tidak ada sosok laki-laki di rumah. Tapi harus merelakannya untuk dapat memperoleh rizki.

Kala itu, saya dan adik melakukan rutinitas seperti biasa. Ibu bersama bude membersihkan padi-padi di depan rumah. Ada sedikit padi sisa hasil panen. Tidak banyak, mungkin sekitar satu karung kecil. Hanya saja sudah jadi kebiasaan di desa untuk saling membantu walau untuk pekerjaan yang sederhana.

Pintu ruang tamu dibiarkan terbuka saat ibu dan bude berada di luar. Tidak ada yang janggal, saya dan adik pun berada di dalam rumah, bermain bersama. Rumah kami pun kecil hanya dua kamar dan satu mushola. Sepertinya semua aktivitas di dalam rumah dapat kami lihat. Tapi entahlah bagaimana ceritanya sampai semua itu tidak dapat dilihat.

Ibu dan bude yang telah menyelesaikan urusannya dengan padi-padi kemudian bersih-bersih. Sekitar pukul 11 malam. Waktu itu saya yang sudah tertidur, terbangun dengan suara ibu dan bude. Bude dan anaknya yang masih berumur kurang lebih 2 tahun berniat menginap malam itu. Maklum hari sudah larut. Rumah bude cukup jauh, butuh sekitar 10-15 menit jalan kaki. 

Hanya saja tidak seperti biasa, malam itu kakak kecil (anak bude) terus saja menangis. Ibu dan bude sudah berusaha mendiamkannya, tapi berkali-kali tetap gagal. Sampai hampir pukul satu tengah malam belum juga berhasil menidurkan bahkan terus saja menangis. Akhirnya bude memutuskan untuk pulang ditemani ibu.

Tinggallah saya di rumah bersama adik. Ibu meminta saya untuk menunggu adik yang tengah tertidur. Ibu berpesan untuk mengunci pintu, takut ada orang yang masuk rumah dan 'ngumpet' di kolong tempat tempat tidur. Waktu itu kami setengah bercanda dan tidak ada firasat apa pun. Ibu pun meninggalkan rumah. Saya balik ke kamar sambil menunggu ibu pulang.

Ibu pulang dengan diantar kakak, anak sulung bude. Setelah itu kami bersiap untuk tidur. Ibu merebahkan diri di atas kasurnya. Pintu kamar dibiarkan terbuka. Saya masih di ruang tengah antara kamar saya dan kamar ibu. Seperti biasa saya bertugas menyalakan obat nyamuk bakar dan memasangnya di tempat tidur. Waktu itu ibu meminta saya melakukan untuknya.

Biasanya, saya menyalakan korek api langsung di kolong tempat tidur tapi kali itu tidak. Saya menyalakan diluar baru kemudian memasangnya. Saat memasang obat nyamuk di kamar ibu, saya merasa sedikit aneh. Ada sesuatu di pojok kolong. Tidak begitu terlihat  karena lampu kamar tidak menyala, hanya ada cahaya lampu dari ruang tengah. Nampak seperti onggokan. Saya mulai penasaran dengan onggokan itu karena ingat kalau pagi harinya sudah membersihkan kamar ibu termasuk kolong tempat tidur.

Saya masih berjongkok di tepi tempat tidur, sementara ibu sudah berebah di atas kasur. Di dorong rasa penasaran saya membungkuk dan menyentuh onggokan tersebut dengan jari telunjuk. Tul...sekali saja, Dengan cepat saya menarik jari saya karena menyentuh sesuatu yang lembut dan dingin. Saya mulai merasa aneh. Apa ya? saya membayangkan seperti kulit ular. Kali itu saya tetap tidak bertanya pada ibu karena beliau sudah terlihat sangat lelah.

Saya masih penasaran dan mencoba mengarahkan jari kembali, tapi kemudian saya tarik lagi. Hal itu terjadi beberapa kali karena sebenarnya saya takut. Takut kalau itu adalah ular. Kemudian saya teringat dengan kucing kami yang tengah beranak. Oh mungkin itu si kucing bersama anak-anaknya. 

Badan kucing kan empuk tapi masak iya kucing? battunyuk (mendorong dengan jari) onggokan itu dengan keras. Tiba-tiba onngokan itu bergerak dengan cepat. Menjeritlah saya dan berteriak pada ibu sekeras-kerasnya sambil berlari keluar kamar "Ibu ada kuciiing..hantuu..." entah apa yang keluar dari mulut saya ketika itu. tapi itulah saat terhisteris dalam hidup saya. 
in saya bertanya-tanya
. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian saya

Saya terus saja berteriak dan hampir tidak bisa membungkam mulut. Badan saya bergetar ketakutan membayangkan apa yang terjadi dengan ibu tapi saya tidak berani keluar. Sampai ibu datang dengan berlari beberapa menit kemudian dan memeluk saya. 

Saya sangat takut
. "Nggak papa itu orang" kata ibu mencoba menenangkan walau sebenarnya ibu juga terlihat takut. Diluar kamar terdengar suara seseorang yang berlari dan membuka pintu. Orang itu pun sepertinya juga ketakutan karena terdengar ia menabrak sesuatu diluar. Tetangga sebelah rumah kemudian datang dan menolong kami. Saya terus saja menangis dan tidak mau tidur di di dalam rumah. Akhirnya kami tidur di rumah tetangga.

Kejadian itu menyisakan trauma yang panjang bagi saya kala. Sampai tidak berani masuk ke kamar ibu untuk beberapa lama, bahkan di siang hari sekali pun. Ibu pun mengalami sakit di kakinya karena melompat dari tempat tidur saat melihat dua tangan keluar dari kolong tempat tidur. Kejadian itu benar-benar menjadi pelajaran yang besar buat saya untuk lebih berhati-hati. Walau tidak ada barang mewah sama sekali yang bisa dicuri di rumah kami. Tidak ada uang, perhiasan, TV atau alat elektronik lainnya tapi mungkin masih ada yang berniat lain. Entahlah, Alhamdulillah Allah menolong kami. Semoga kejadian ini bisa diambil hikmahnya.

Minggu, 23 November 2014

Bermain Kartu bersama Si Kecil

Si kecil libur, mau ngapain ya? Mungkin ide bermain kartu bisa jadi alternatif. Dulu saya tidak suka dengan benda yang satu ini. Karena sering melihatnya dijadikan sebagai alat judi. Itu dulu, kini kartu bisa menjadi media belajar. 


Mungkin banyak cara untuk belajar dengan media kartu. Kali ini saya akan berbagi cara bermain Memory Card Yakni dengan menggunakan kartu secara berpasangan. "Kartu kan mahal harganya?" Eeiit..tunggu dulu. Kartu yang satu ini dapat kita kreasi sendiri. Dari kertas-kertas atau kardus-kardus bekas dengan bentuk dan isi yang kita sukai. Bentuk kotak seringkali menjadi pilihan karena mudah membentuknya, tinggal menggunting biasa dan dapat menyertakan si kecil untuk membuatnya. Tapi jika bunda dan ayah punya sedikit waktu luang, dapat membuatnya dengan aneka bentuk.


Pada prinsipnya, bermain kartu yang saya maksud di sini, selalu berpasangan. Misalnya, buatlah 10 pasang kartu. Lebih banyak lebih baik. Kartu dipasang secara tertutup dan acak. Usahakan tidak berdekatan dengan pasangannya. Pada saat bermain kartu akan dibuka satu persatu secara bergantian. 
mencari gambar yang sama

Setiap pemain berkesempatan membuka dua kartu dalam sekali giliran. Pemain harus mencari kartu yang sama dalam satu kali giliran untuk mendapatkan poin. Jika belum sama harus menutupnya kembali sembari mengingat-ingat letak kartu sebelumnya. Agar pada giliran yang lain dapat membuka kartu yang sama. Siapa yang mendapat kartu pasangan paling banyak, dialah pemenangnya.

Untuk memainkan kartu berpasangan ini ada beberapa pilihan, sesuai dengan kemampuan anak. Untuk anak yang belum bisa membaca bisa menggunakan kartu yang memiliki gambar yang sama atau memiliki angka yang sama, 

kartu lawan  kata
Untuk yang sudah bisa membaca, bisa menggunakan memilih kartu dengan kata yang sama dapat pula dengan memakai angka yang ditambahkan atau dikurangi.
kartu berhitung

Untuk mereka yang sudah agak besar bisa menggunakan kartu persamaan kata atau perbedaaan kata atau bisa juga dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaaan tertentu.

Mudahkan ayah bunda, mungkin ada kreasi yang bisa ayah bunda tambahankan. Selamat mencoba :)