Memaafkan, mungkin saja akan dipengaruhi oleh pengalaman seseorang. Ada banyak hal yang dianggap sepele oleh orang lain namun ternyata begitu berarti bagi yang lainnya. Kesenjangan seperti inilah yang seringkali menjadi konflik bagi sebagian orang yang kemudian sulit untuk dimaafkan. Dan kejadian itu pun saya rasakan beberapa waktu lalu.
Waktu itu di sebuah mini market. Saya sedang antri dengan seorang konsumen di meja kasir. Tiba-tiba saja dengan seenaknya, seorang bapak nyerobot antrian. Langsung saja meletakkan belanjaannya yang banyak tepat di hadapan saya. Sementara saya sudah mengantrikan belanjaan saya sejak beberapa waktu lalu. Dia seorang muslim. Tahu reaksi saya saat itu? Jengkel banget nget..padahal hal semacam ini biasa saja bagi saya kalau terjadi di Indonesia. Tapi di sini, standar saya berbeda. Saya merasa sangat jengkel dengan si bapak ini. Maklum di sini sangat menjunjung tinggi budaya antri mau tidak mau itu pun sudah menjadi bagian yang juga saya terapkan. Minimal di negara ini :) semoga berlanjut di tempat lain..
Yang terpikir saat iti, kesal banget sama si bapak. Harusnya kan dia antri seperti yang lain. Kebayang kan kalau yang diserobot antriannya adalah bule. Yang bakal kena tentu identitas muslimnya. Hal itulah yang membuat saya begitu jengkel ditambah marah betulan :) karena rasa jengkel itulah saya enggan memandang si bapak.
Tidak berhenti di situ. Karena mini market cukup ramai, akhirnya seorang kasir lain meminta konsumen yang berbaris panjang untuk mengantri padanya. Nah si bapak ini dengan mudahnya meminta saya untuk antri di kasir yang barusan di buka. Yah...sudah bisa ditebak kan bagaimana sikap saya. Masih dengan dongkol saya pun menolak tapi alhamdulillahnya masih dengan suara biasa, tapi tanpa mau menoleh ke arahnya. Habis mata ini bakal kebaca kalau udah marah banget.
Tak lama kemudian istri si bapak yang berada di belakangnya berkata sesuatu. Entah apa karena memang tidak memakai bahasa Inggris, Sepertinya ngomongin saya (sok tahu, nebak-nebak). Beberapa detik kemudian si bapak meminta kasir di depan kami untuk mendahulukan saya. Dari cara bicaranya ia benar-benar ingin saya didahulukan sebelum dia walaupun belanjaan dia sudah nongkrong di dekat kasir sejak beberapa waktu lalu. Kebetulan pembeli di depan saya pun punya belanjaan banyak sehingga harus lama menunggu.
Saya pun sedikit lega, akhirnya setelah menyelesaikan pembayaran saya keluar dari tempat itu tanpa menoleh ke arah si bapak.
Sepanjang perjalanan ke rumah saya mengevalusi apa yang sudah saya lakukan. Saya mencoba memposisikan diri sebagai si bapak tadi. Dia mungkin punya alasan mengapa menyerobot antrian. Walaupun saya tidak membenarkan, setidaknya saya harus mengerti pastilah ada alasan dibalik semua itu. Memang dia telah melakukan kesalahan tapi dia juga telah berupaya memperbaikinya dengan mendahulukan saya. Setidaknya si bapak telah melakukan perbaikan atas kesalahannya. Saya menyesal, mengapa tidak mengucapkan terimakasih ketika si bapak yang telah memberikan kesempatan itu walaupun itu sudah menjadi hak saya.
Secara sekilas memang hak saya untuk didahulukan, tapi seharusnya saya menghargai upaya si bapak untuk memperbaiki kesalahannya. Seandainya hal serupa terjadi pada saya dengan kesalahan yang berbeda, bukankah saya juga ingin dimaafkan? Alangkah sedihnya jika orang lain tidak memaafkan. Bukankan memaafkan itu sangat mulia. Tidak akan ada ruginya memaafkan orang lain toh kita juga butuh dimaafkan. Barangkali memaafkan bisa menjadi menjadi pelajaran berharga bagi orang lain. Bukankah Rasulullah mengajarkan akhlak yang mulia dalam diri seorang muslim. Menebarkan kebaikan pun harus dengan kasih sayang. Dari kejadian ini saya bisa belajar dan tersadarkan baru sebatas ini akhlak saya. Padahal bisa jadi, ada hikmah di balik semua itu.
Bukankah amat mudah bagi Allah menjalankan si Bapak untuk menyerobot antrian yang lain. tapi Allah menjalankannya pada saya, tentulah bukan hal yang kebetulan semata. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk saya agar akhlak yang muncul adalah kebaikan di setiap kesempatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar