Menyentuh hati agar mampu memaknai, bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Sabtu, 27 Desember 2014

Waspada dengan Kolong Tempat Tidur

Mengingat kejadian itu, saya sangat-sangat bersyukur pada Allah yang telah menjaga kami. Entah apa yang akan terjadi jika Allah tidak membukakan semuanya. 

Malam itu, beberapa tahun lalu saat saya masih duduk di Sekolah Dasar, seperti kebiasaan giliran bapak harus keluar rumah. Menjajakan dagangan sederhananya di desa lain yang sedang ada hajatan. Kegiatan ini memang rutin dilakukan bapak untuk menjemput rezeki yang lebih baik bagi keluarga. Pulangnya biasanya pagi hari menjelang subuh. Kadang kami, saya, ibu dan adik merasa khawatir ditinggal bapak karena tidak ada sosok laki-laki di rumah. Tapi harus merelakannya untuk dapat memperoleh rizki.

Kala itu, saya dan adik melakukan rutinitas seperti biasa. Ibu bersama bude membersihkan padi-padi di depan rumah. Ada sedikit padi sisa hasil panen. Tidak banyak, mungkin sekitar satu karung kecil. Hanya saja sudah jadi kebiasaan di desa untuk saling membantu walau untuk pekerjaan yang sederhana.

Pintu ruang tamu dibiarkan terbuka saat ibu dan bude berada di luar. Tidak ada yang janggal, saya dan adik pun berada di dalam rumah, bermain bersama. Rumah kami pun kecil hanya dua kamar dan satu mushola. Sepertinya semua aktivitas di dalam rumah dapat kami lihat. Tapi entahlah bagaimana ceritanya sampai semua itu tidak dapat dilihat.

Ibu dan bude yang telah menyelesaikan urusannya dengan padi-padi kemudian bersih-bersih. Sekitar pukul 11 malam. Waktu itu saya yang sudah tertidur, terbangun dengan suara ibu dan bude. Bude dan anaknya yang masih berumur kurang lebih 2 tahun berniat menginap malam itu. Maklum hari sudah larut. Rumah bude cukup jauh, butuh sekitar 10-15 menit jalan kaki. 

Hanya saja tidak seperti biasa, malam itu kakak kecil (anak bude) terus saja menangis. Ibu dan bude sudah berusaha mendiamkannya, tapi berkali-kali tetap gagal. Sampai hampir pukul satu tengah malam belum juga berhasil menidurkan bahkan terus saja menangis. Akhirnya bude memutuskan untuk pulang ditemani ibu.

Tinggallah saya di rumah bersama adik. Ibu meminta saya untuk menunggu adik yang tengah tertidur. Ibu berpesan untuk mengunci pintu, takut ada orang yang masuk rumah dan 'ngumpet' di kolong tempat tempat tidur. Waktu itu kami setengah bercanda dan tidak ada firasat apa pun. Ibu pun meninggalkan rumah. Saya balik ke kamar sambil menunggu ibu pulang.

Ibu pulang dengan diantar kakak, anak sulung bude. Setelah itu kami bersiap untuk tidur. Ibu merebahkan diri di atas kasurnya. Pintu kamar dibiarkan terbuka. Saya masih di ruang tengah antara kamar saya dan kamar ibu. Seperti biasa saya bertugas menyalakan obat nyamuk bakar dan memasangnya di tempat tidur. Waktu itu ibu meminta saya melakukan untuknya.

Biasanya, saya menyalakan korek api langsung di kolong tempat tidur tapi kali itu tidak. Saya menyalakan diluar baru kemudian memasangnya. Saat memasang obat nyamuk di kamar ibu, saya merasa sedikit aneh. Ada sesuatu di pojok kolong. Tidak begitu terlihat  karena lampu kamar tidak menyala, hanya ada cahaya lampu dari ruang tengah. Nampak seperti onggokan. Saya mulai penasaran dengan onggokan itu karena ingat kalau pagi harinya sudah membersihkan kamar ibu termasuk kolong tempat tidur.

Saya masih berjongkok di tepi tempat tidur, sementara ibu sudah berebah di atas kasur. Di dorong rasa penasaran saya membungkuk dan menyentuh onggokan tersebut dengan jari telunjuk. Tul...sekali saja, Dengan cepat saya menarik jari saya karena menyentuh sesuatu yang lembut dan dingin. Saya mulai merasa aneh. Apa ya? saya membayangkan seperti kulit ular. Kali itu saya tetap tidak bertanya pada ibu karena beliau sudah terlihat sangat lelah.

Saya masih penasaran dan mencoba mengarahkan jari kembali, tapi kemudian saya tarik lagi. Hal itu terjadi beberapa kali karena sebenarnya saya takut. Takut kalau itu adalah ular. Kemudian saya teringat dengan kucing kami yang tengah beranak. Oh mungkin itu si kucing bersama anak-anaknya. 

Badan kucing kan empuk tapi masak iya kucing? battunyuk (mendorong dengan jari) onggokan itu dengan keras. Tiba-tiba onngokan itu bergerak dengan cepat. Menjeritlah saya dan berteriak pada ibu sekeras-kerasnya sambil berlari keluar kamar "Ibu ada kuciiing..hantuu..." entah apa yang keluar dari mulut saya ketika itu. tapi itulah saat terhisteris dalam hidup saya. 
in saya bertanya-tanya
. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian saya

Saya terus saja berteriak dan hampir tidak bisa membungkam mulut. Badan saya bergetar ketakutan membayangkan apa yang terjadi dengan ibu tapi saya tidak berani keluar. Sampai ibu datang dengan berlari beberapa menit kemudian dan memeluk saya. 

Saya sangat takut
. "Nggak papa itu orang" kata ibu mencoba menenangkan walau sebenarnya ibu juga terlihat takut. Diluar kamar terdengar suara seseorang yang berlari dan membuka pintu. Orang itu pun sepertinya juga ketakutan karena terdengar ia menabrak sesuatu diluar. Tetangga sebelah rumah kemudian datang dan menolong kami. Saya terus saja menangis dan tidak mau tidur di di dalam rumah. Akhirnya kami tidur di rumah tetangga.

Kejadian itu menyisakan trauma yang panjang bagi saya kala. Sampai tidak berani masuk ke kamar ibu untuk beberapa lama, bahkan di siang hari sekali pun. Ibu pun mengalami sakit di kakinya karena melompat dari tempat tidur saat melihat dua tangan keluar dari kolong tempat tidur. Kejadian itu benar-benar menjadi pelajaran yang besar buat saya untuk lebih berhati-hati. Walau tidak ada barang mewah sama sekali yang bisa dicuri di rumah kami. Tidak ada uang, perhiasan, TV atau alat elektronik lainnya tapi mungkin masih ada yang berniat lain. Entahlah, Alhamdulillah Allah menolong kami. Semoga kejadian ini bisa diambil hikmahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar