Cahaya di dalam
Lintangku
Dikem namaku, meski kedengarannya tidak terlalu bagus tapi cukup dikenal.
Setidaknya di kampus ini, tempat aku biasa bekerja. Maklum, karena aku cleaning
service satu-satunya yang sudah lanjut usia. Selain itu aku punya anak gadis
yang juga kuliah di sini. Namanya Lintang. Biarpun hidup kami cuma pas-pasan
bahkan kekurangan tapi aku ‘nekat’ menguliahkan Lintang sesuai amanat almarhum
suamiku. Setidaknya agar dia kelak mempunyai kehidupan yang lebih baik dari
kami.
Suasana belum begitu ramai saat aku menyapu di depan ruang kuliah.
Tepatnya di bawah pohon yang mulai menggugurkan daun-daunnya. SStttt…sebuah
sepeda mini tiba-tiba berhenti di depanku. Aku hampir saja melonjak karena
kaget.
“Maaf bu Dikem, kanget ya?” seorang gadis kecil tersenyum dengan sedikit
nyengir. Nampak olehku gigi-giginya yang
putih dan tertata rapi. Ia menyandarkan sepedanya di batang pohon.
Dia Shofia, anak tetanggaku yang hampir setiap hari mengantarkan sarapan untukku. Sarapan buatan Lintang yang dititipkan
padanya. Sekalian berangkat sekolah begitu kata Shofia ketika kutanya
kesediaannya waktu itu.
“Ini sarapannya bu, tadi Mbak Lintang pesan nanti mau kampus”, ujarnya
sambil menyerahkan sebungkus makanan dan sekantong air untukku. Aku mengangguk
dan berterimakasih.
“Terimakasih ya, belajar yang baik di sekolah”,
“Siip!!” sahut Shofia sambil mengacungkan jempolnya. Bocah yang sudah
berseragam merah putih itu pun segera berlalu dari hadapanku. Aku menghentikan
pekerjaanku, mencari tempat duduk kemudian menyantap sarapanku.
Waktu pagi seperti sekarang ini memang menjadi saat yang sibuk bagi
Lintang, hingga dia tak sempat menemuiku. Ia harus berjualan koran di terminal
yang letaknya lumayan jauh dari rumah kami.
“Sudahlah, Lintang. Terima saja pekerjaan itu dari pada harus jualan
koran”, pintaku beberapa hari lalu ketika Lintang menerima tawaran pekerjaan
dari seorang wanita pengusaha.
“Tidak bu. Ini masalah aqidah, Lintang tidak mau memakai baju seperti itu
hanya untuk sebuah pekerjaan”, begitu jawabnya dengan lugas.
“Tapi kan
masih bisa tetap pakai kerudung, hanya dikecilkan sedikit. Lagipula pakai
seragam celananya juga tidak setiap hari”, aku terus saja membujuknya walau
saat itu tak nampak ketertarikan sedikit pun di wajahnya.
Lintang hanya memandangiku sambil mendesah. Aku tahu ada banyak hal yang
ingin ia katakan padaku, tapi dia mencoba menenangkan diri.
“Ibu, masih banyak pekerjaan yang lebih baik mengapa kita memilih yang
justru akan membuat kita buruk di hadapan Allah”.
“Tapi pekerjaan itu bisa sangat membantu”, aku terus saja berargumen.
“Maafkan Lintang ya, Bu”. Anak semata wayangku itu tak berkata banyak. Ia
mencium pipiku kemudian meninggalkanku yang masih terpaku.
Lintang memang keras, persis seperti bapaknya. Kalau sudah merasa benar
maka akan teguh dengan pendiriannya tak peduli dengan resikonya. Sebenarnya aku
juga tidak sepenuhnya setuju kalau Lintang menerima pekerjaan itu. Sebagai
pelayan restoran dengan baju yang sedikit seksi walau tetap berkerudung. Tapi
menurutku itu lebih baik daripada harus bersusahpayah jualan koran untuk
membayar biaya kuliahnya yang tidak sedikit.
Matahari mulai menghangat, sinarnya menerobos celah-celah gedung. Aku
kembali menekuni pekerjaanku. Ruangan demi ruangan akhirnya selesai juga
kubersihkan. Para mahasiswa sudah nampak
berdatangan. Kuletakkan sapu dan peralatan lainnya di sudut ruangan.
“Selamat pagi bu Dikem”, sebuah suara ramah menyapaku. Aku menoleh.
“Pagi, Mbak Ica”, jawabku sambil menerima uluran tangannya. Kami pun
berjabattangan. Gadis berkacamata di depanku teman satu jurusan dengan Lintang.
Orang Sumatra katanya tapi ia sudah lama
tinggal di Jawa karena orangtuanya dinas di pulau ini.
“Lintang, mana Bu? belum kelihatan?”, tanyanya sambil merapikan rambutnya
yang hampir menutupi mata. Pandangannya berkeliling mencari sosok Lintang.
“Biasa, mungkin masih di terminal”, ujarku.
“Lho, bukannya kemarin sudah dapat pekerjaan baru?” tanyanya serius. Aku
tersenyum sambil menggeleng. Angin bertiup perlahan menerpa rambut Ica yang terurai. Gadis
itu kembali merapikannya.
“Dia belum mau,” kataku.
“Apa??? Jadi ditolak bu?” Ica
terperangah. Seperti pertama kali aku mendengar penolakan itu dari Lintang.
Mungkin karena gajinya yang menggiyurkan.
“Bagaimana bisa bu, saya sudah berulang kali melamar tidak diterima, tapi
Lintang? Oh!!…”, gadis itu menepuk jidatnya berkali-kali. Seperti menyayangkan
yang telah terjadi.
“Ica kan tahu bagaimana Lintang”, selorohku.
“Pasti gara-gara pakaian, iya kan
bu?”. Tebakan gadis itu sangat tepat. Dia memang cukup mengenal Lintang. Seringkali
ia berdebat dengan Lintang tentang banyak hal. Tapi itu tak membuatnya membenci
Lintang ataupun sebaliknya.
“Nah, tuh dia Si ‘Aneh’ datang”, seru Ica sambil bertolak pinggang.
Dari kejauhan nampak anak gadisku melangkah mendekati kami. Kerudung
yang sedikit panjang melambai-lambai. Warna
biru selaras dengan bajunya. Walau tak terlalu bagus namun tampak enak
dipandang. Kuakui Lintang memang cantik. Aku bahagia bisa menjadi ibunya.
Lintang mencium punggung tanganku sambil mengucap salam. Aku membalasnya
seraya mengelus kepalanya yang tertutup
kerudung.
“Lintang, benar kamu tolak pekerjaan dari Nyonya Dewi?” serbu Ica antusias dengan suara
yang sedikit keras. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah kami. Huss!!! Lintang
meletakkan telunjuknya di atas mulut, memberi tanda pada Ica untuk memelankan suaranya. Ica cemberut kemudian kembali
mengulang pertanyaaanya.
“Benar kamu tolak?”, kali ini dengan suara yang lebih pelan dibanding
sebelumnya.
“Ee….”, Lintang menggantungkan jawabannya. Ica makin penasaran. Dicubitnya Lintang yang
tak juga memberikan jawaban. Rupanya ia ingin mendengar jawaban langsung dari
Lintang walau sebenarnya aku telah memberitahunya.
“Masya Allah, sakit Ica !!”.
Lintang tersenyum sambil menahan rasa sakit.
“Jawab, Lintang. Diterima atau ditolak tawaran itu?”. Lintang tak juga
memberikan jawabannya, hanya senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Jadi benar bu?”, Ica
meminta keyakinan dariku kemudian memandang ke arah Lintang. Aku hanya mengangkat
bahu dan menyerahkan sepenuhnya pada Lintang.
“Ica kan sudah mengenal Lintang, jadi pasti sudah
tahu jawabannya”, jawab Lintang diplomatis. Ica melongo. Beberapa menit kemudian nampak
sedikit lesu.
“Yah, benar. Ternyata ditolak, padahal aku kan
juga mau dibantu bisa kerja di sana ”.
Ada raut kecewa di wajah Ica .
Lintang menepuk-nepuk bahu Ica sambil menyampaikan
beberapa alasan mengapa ia menolaknya. Aku makin memahami maksud anakku. Dia
hanya ingin mempertahankan komitmennya sebagai muslimah. Cukup membanggakan,
terutama untukku sebagai ibunya.
“Tapi Lintang, itu kan
cuma mode. Tidak ada salahnya bukan kalau sedikit modern, mengikuti
perkembangan”, Ica
masih tidak puas dengan jawaban Lintang.
“Sudahlah. Ayo, masuk!”. Lintang menggandeng Ica . Setelah berpamitan denganku mereka segera
masuk ke dalam ruangan. Aku tak tahu lagi apa yang dibicarakan, Aku pun bergegas pergi dari tempat itu.
****
Tak terasa satu tahun pun berlalu. Walau dengan perjuangan yang panjang
akhirnya Lintang dinyatakan lulus ujian skripsi. Alhamdulillah aku sangat lega
sekaligus bersyukur.
“Bu, Lintang lulus”, begitu ucapnya kemarin sore seraya menunjukkan
skripsinya. Airmata bahagia meleleh di pipinya begitupun yang terjadi padaku. Akhirnya
penantian panjang ini terwujud juga.
“Tiga hari lagi wisuda, Bu”, kata Lintang sambil mengusap airmatanya.
“Wisuda?” aku tercekat. Lintang mengangguk mantap.
Sejenak aku terdiam, terbayang di benakku ketika itu hilir mudik peserta
wisuda dan keluarganya yang sering kulihat sebelum-sebelumnya. Mereka rata-rata
tampil menarik dengan pakaian yang indah. Dan yang begitu mencolok adalah
pakaian peserta wisuda terutama yang perempuan rata-rata wajah bermake up dan
berbaju mahal.
***
Besok pagi Lintang akan diwisuda. Hatiku
sedikit gundah atau bisa dikatakan sedih. Pasalnya belum bisa kubelikan sehelai
baju pun untuk gaun wisudanya walaupun ia tak pernah meminta.
“Andai engkau masih di sini pak”, tiba-tiba aku teringat mendiang
suamiku. Jika dia masih hidup mungkin Lintang bisa mengenakan baju yang bagus
di acara wisudanya. Tapi segera kuhapus pikiran di benakku tak ada gunanya
menyesali keadaannya. Toh tak akan mengembalikan almarhum suamiku.
“Bu, ini ada sesuatu untuk ibu”, Lintang muncul dari balik pintu dan
menyerahkan sebuah tas plastik padaku. Bentuknya masih rapi dan terbungkus
rapat. Lintang mempersilahkanku untuk membukanya.
“Apa ini?, “ tanyaku sambil membolak-balik tas plastik di tanganku.
“Dibuka dulu bu, semoga ibu suka,” katanya sambil duduk menjajariku.
Kubuka perlahan, kukeluarkan yang ada di dalamnya. Sebuah kebaya panjang
kini ada di tanganku. Masih terdapat merk dikerahnya. Rupanya Lintang
menyiapkan baju baru untukku.
“Dipakai besok pas acara wisuda ya, Bu! biar Ibu tambah cantik”. Aku
hanya terpaku antara haru dan sedih. Aku tahu Lintang belum membeli satu baju
pun untuk dirinya tapi dia lebih memikirkanku. Dia bilang kebaya itu dibeli
dari hasil tabungannya.
“Bagaimana dengan pakaianmu, Lintang? Kita pinjam di salon saja ya? Ibu
masih punya uang simpanan, barangkali cukup”. Aku menawarkan.
Lintang menolak. Menurutnya pakaian di salon banyak yang tidak cocok
untuknya. Kalaupun ada harus mencari dulu yang paling pas dan sesuai syariat.
Ah! Kalau sudah bicara pakaian Lintang selalu saja begitu.
“Sempit sedikit kan
tidak apa-apa cuma sehari kok”, usulku. Lagi-lagi Lintang tetap tidak mau.
Hanya senyum tipis yang mencoba menenangkanku.
“Ibu tidak usah khawatir, Lintang akan tetap tampil cantik di acara
wisuda nanti,” ujarnya enteng. Aku mengeryitkan dahi dan sedikit ragu dengan
ucapannya.
“Ibu belum percaya?” tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Sejujurnya
meskipun kami bisa dibilang miskin tapi aku tak ingin berbangga dengan
kemiskinan ku. Aku tak ingin orang iba melihat kami hanya karena sesuatu yang
tak layak dipandang.
Akhirnya Lintang pun membuka lemari bajunya. Ia mengeluarkan baju yang
dibelinya setahun lalu. Warnanya masih cukup bagus walau tidak terlalu bagus.
“Lintang mau pakai ini, Bu”. Dikeluarkannya lagi sebuah kerudung dan
beberapa hiasan pelengkapnya. Warnanya senada dengan bajunya. Mulai dari
perlengkapan yang kecil hingga yang besar telah disiapkannya. Tidak ada yang nampak
mencolok, Semua sederhana tapi sangat indah dan saling melengkapi. Diam-diam
aku mengagumi caranya. Lintangku begitu pandai memaknai arti syukur dan pintar
pula menampilkan keindahan.
“Semua ini akan Lintang pakai supaya bagus dan serasi. Tampil cantik kan tidak harus selalu ...”. Aku tak ingin lagi
mendengar kata-katanya. Langsung saja kupeluk erat anak gadisku. Ia pun balas
memelukku. Tak ada lagi yang perlu kukhawatirkan, Lintang pasti akan tampak cantik
esok pagi.
&&&&
Tidak ada komentar:
Posting Komentar