Ada yang pingin tahu nih kisah seputar kegiatanku di Newcastle. Jadi ga apa-apa ya sedikit kasih cerita. Kali ini cerita soal ngejar bahasa. Bahasa apalagi kalau bukan bahasa Inggris, yang sedari SD sampai kuliah hampir tidak pernah kukuasai kecuali sedikit saja. Apalagi logatku yang Jowo medok makin membuat tidak PD untuk mengucapkan bahasa yang satu ini. Tapi rupanya Allah punya rencana yang lain. Allah sampaikan aku di sini, di negara si empu nya bahasa. Tak bisa menghindar kecuali harus belajar. Dan yang sangat menggembirakan semuanya gratis.
Sebelum belajar (ngejar bahasa) aku sering mis komunikasi dengan penjual daging. Aku minta A dikasih B. Kalau aku nyoba jelaskan, mereka pura-pura sibuk. Mereka cuma bilang Sorry..sorry...ternyata mereka juga ga ngerti bahasaku. Di resepsionis walau kadang cuma bertanya hal yang pendek-pendek mereka juga ga ngerti. Rupanya itu semua bermula dari logat kami yang beda. Mereka terbiasa logat Inggris British dan Jordi. Semacam ngapak kali ya kalo di Indonesia, suka mempendek-pendekkan kata. Sementara di Indonesia terbiasa Inggris Amerika. Terbata-bata pula. lengkap sudah :)
Tempat pertama saya belajar di UWIG (University Woman Internasional Group), kurang lebih 2 atau 3 pekan pertama setelah berada di Newcastle. Tempatnya di lingkungan kampus sekitar 45 menit dari flat dengan berjalan kaki, ditambah dorong Dzakka yang naik pushchair. Sebenarnya ada bis tapi aku lebih memilih jalan kaki, selain sehat juga irit :) Waktu itu ikut kelas menengah, bukan karena kemampuanku yang sudah menengah melainkan karena mengekor kebanyakan ibu-ibu Indonesia. Untung saja diperbolehkan. Karena di kelas dasar kebanyakan dari Timur Tengah dan bahasa Arab semua.
Kami dibimbing oleh Susie, salah seorang warga asli. Membahas banyak hal, berita-berita di koran, hari-hari nasional, pertukaran budaya dll. Di dalam forum hampir 90% diskusi lisan. Jangan dibayangkan saat itu aku bisa cas cis cus ya. Kehadiranku lebih banyak jadi pendengar, itu pun tidak semua bisa dipahami. Sesekali saja bicara kalau ditanya dan masih lirik kanan kiri memohon bantuan menterjemahkan. Saat beberapa waktu ibu-ibu Indonesia berhalangan hadir harus membulatkan tekad untuk tetap hadir. Meskipun kadang tidak nyambung. Untunglah pembimbingnya sangat telaten. Kalau sudah nyerah karena ga tahu harus bagaimana menjelaskan. Beliau cuma bilang It's Ok. Dengan senyum ramahnya penuh pemakluman. Teman-teman sekelas yang rata-rata punya profesi bergengsi di negaranya juga sangat memaklumi, tak jarang ikut pula membantu. Dan peserta yang kayak aku ga cuma aku ada juga yang lain tapi ga banyak.
Belajar di UWIG hanya berjalan beberapa bulan saja. Pihak kampus memberhentikan secara sepihak. Maklum pengurusnya sebagian besar sudah nenek-nenek kisaran 60-70an tahun, sehingga dianggap tidak bisa maju. Dengan berat hati akhirnya harus meninggalkan forum ini.
Tempat belajar selanjutnya di Nunsmoor, sekolahnya Dzakka atau lebih tepatnya tempat bermainnya. Walaupun harus menunggu beberapa minggu akhirnya bisa juga ikut bergabung. Pembimbingnya Sharon warga asli dan Fatimah dari Timur Tengah. Fasilitas di Nunsmoor sangat lengkap, datang orang saja Insya Allah bisa belajar. Mereka menyediakan alat belajar sampai dengan pensil dan penghapusnya. Anak-anak diberi pengasuh, lengkap dengan pembelajarannya. Di Nunsmoor karena aku sudah bisa sedikit nimbrung bicara jadilah ketahuan aslinya. Aku sering ditertawakan sama pembimbingnya yang memang ramah dan supel. Gara-gara salah ucap. Bagiku tidak apa-apa asal mau bicara dan tidak jadi pendengar saja. Pembelajaran di sini cukup asyik, medianya memadai dan kadang diselingi dengan semacam games. Ada kopi hangat, susu hangat dan snacknya juga :). Di sini aku juga belajar dari semangat ibu-ibu yang usianya sudah paruh baya tapi tetap antusias belajar. Merasa masih banyak yang harus dipelajari, maka aku pun mencari tempat belajar lainnya.
Selanjutnya, aku belajar di Millin centre sekitar 15 menit dari flat. Pengajarnya Sharon, Yuonne dan Lisa. Di sini tidak ada pengasuh anak, jadilah Dzakka murid yang ikut serta belajar dengan ditemani biskuit dan aneka mainan. Tapi para pembimbing senang dengan kehadiran Dzakka bahkan melibatkan Dzakka dan mengabsen namanya. Mereka juga sering berdialog dengan Dzakka saat peserta yang lain mengerjakan tugas. Pembimbing di Millin hafal banget denganku karena aku paling sering menyerahkan PR meski tidak diminta. Karena ternyata tidak semua ibu-ibu bersemangat mengerjakan PR. Maklum mungkin sangat sibuk.
Walaupun sudah di Nunsmoor dan Millin Centre tapi aku masih sering juga keteteran saat memahami orang Newcastle bicara. Seperti saat di rumah sakit. Aku dengarnya Kahal. Padahal orangnya bilang Can I Help. Org bilang Cat dengarnya Card. Intinya masih banyak yang harus diperbaiki maka aku tambah belajar di Scanning School.
Di Scanning School, belajarnya dibimbing Kevin dan Vicky. Ada Mahi dan Simon sebagai pengasuh anak. Tapi anak-anak satu kelas dengan kami. Di sana kami banyak belajar bicara. Tapi belakangan ini Vicky fokus ke aku karena kubilang ingin belajar sungguh-sungguh. Aku ingin punya sertifikat yang bisa digunakan di Indonesia. Maka Vicky pun membantu, mulai dari memberi test, mencarikan web belajar online dan merekomendasikan buku-buku yang harus kubaca. Yang lain belajar dengan Kevin aku privat dengan Vicky. Vicky seorang guru yang mendermakan sebagian waktunya di kelas kami.
Sekali lagi sadar diri belum tahu banyak hal, kukejar bahasaku dengan menambah jam belajar di Wesgate College. Di sini kelasnya besar, muridnya banyak dan banyak ujiannya seperti kuliah. Anak-anak dipisah dan bersama pengasuh. Dua pekan sekali.
Dan yang terbaru aku belajar di Masjid Tauhid bersama para pembimbing dari Arab Langsung. kalau yang ini tujuannya sih mau belajar agama tapi bonusnya belajar bahasa. Karena ternyata bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Kami belajar Fiqh, Akhlak, Al Qur'an dll. Yang datang para muslimah dari berbagai negara. Mereka sangat antusias. Banyak juga yang mualaf dan orang newcastle. Cantik-cantik. Kalau sudah begitu aku sangat bersyukur terlahir di Indonesia yang jauh lebih banyak mengenal Islam daripada mereka. Rata-rata muslimah di sini kesulitan membaca Al Quran dan harus berulang kali dibenarkan. Untuk mengucap kata Allah saja mereka juga perlu dibetulkan.
Sampai saat ini rutinitas itu masih kujalani di Nunsmoor, Millin, Scanning School, Westgate college. Yang di Masjid Tauhid semoga juga tetap berlanjut. Awalnya agak terbebani saat Dzakka menangis kalau harus bersama pengasuh yang semuanya tentu berbahasa Inggris. Tapi setelah Dzakka diajak dialog bahwa umminya harus belajar biar bisa ngajari Dzakka kalau sudah sekolah dan biar bisa ngajar kakak kakak les di Indonesia. Dzakka sekarang tidak nangis lagi. Alhamdulilllah.
Sekian dulu ya, mohon doanya semoga keberadaanku dan keluarga di Newcastle bisa membawa manfaat. Dilancarkan belajarnya dan diberi kemudahan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar