Menyentuh hati agar mampu memaknai, bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Sabtu, 02 Maret 2013

Perbuatan Berkesinambungan

Mengapa Allah begitu suka perbuatan yang dilakukan terus menerus? walau mungkin tidak terlalu besar kelihatannya. Karena di sinilah pembeda antara mereka yang bersungguh-sungguh dan sekedar berkeinginan.
 
Sungguh bukan perkara sederhana menjaga kesinambungan perbuatan baik. Kadang kita terlena dan sibuk dengan urusan lain sehingga terpaksa menundanya. Bahkan terulang untuk yang ke berapa kalinya. Kadang pula dihinggapi perasaaan bosan akibat tak memaknai perbuatan baik yang dilakukan. Hanya sekedar rutinitas semata. Padahal kita tahu sesuatu yang baik dan dilakukan terus menerus akan memberikan hasil yang baik di masa yang akan datang. Bagaimana sebaiknya kita menjaga kestabilan perbuatan kita?
 
1. Mengingat tujuan tertinggi
 
Hampir setiap perbuatan mempunyai tujuan baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Tujuan inilah yang harus kita pahami sehingga kita yakin untuk menjalaninya. Tanyakan pada diri kita mengapa hal itu harus dilakukan. Adakah alasan yang membuat kita mudah untuk meninggalkannya. Jika tidak, tentu saja kita harus terus melakukannya. Karena kita punya mimpi dan harapan.
 
2. Nikmati prosesnya
 
Proses, inilah waktu-waktu yang panjang untuk dilalui. Mungkin keletihan, kepenatan akan membersamai. Tapi di sinilah sebenarnya kita ditempa untuk menjadi berbeda dari kebanyakan orang yang berleha-leha. Di sini pula akan terjadi proses seleksi, hanya bagi mereka yang bersungguh-sungguh sajalah yang akan tetap menempati posisinya. 
 
3. Kondisikan suasana
 
Hal yang tak kalah penting untuk menjaga kesinambungan perbuatan baik kita adalah lingkungan. Kitalah sebenarnya yang paling tahu kebutuhan apa saja yang kita perlukan untuk menunjang. Kondisikan! Bila harus ada hal lain yang perlu disiapkan, maka siapkan. Belajarlah dari mereka yang telah berhasil mengamankan dirinya terlebih mengoptimalkannya.
 
4. Berdoa
 
Apapun usaha yang telah kita lakukan, tetaplah sertakan doa di dalamnya. Karena manusia adalah makhluk yang lemah. Dan sebaik-baik penolong adalah Sang Maha Penolong. Wallahu'alam.
 
*Sebuah nasehat untuk diri yang sering terlupa  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar