Menyentuh hati agar mampu memaknai, bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan di Newcatle

Sejenak melepas lelah setelah bergelut dengan naskah yang belum kunjung selesai. Mohon doanya ya Ramadhan ini selesai :)

Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah, tahun ini Alhamdulillah saya diberi kesempatan ber Ramadhan di negeri orang. Pertama yang dirasakan adalah rindu yang sangat pada Ramadhan di tanah air, rindu suasana dan meriahnya aktivitas di masjidnya. Meski begitu tetap harus disyukuri, pengalaman yang indah juga kami dapatkan di sini.

Bicara tentang Ramadhan yang sangat baru bagi kami adalah puasanya. Puasa di sini lumayan lama dibanding di Indonesia, di musim panas pula. Meski tentu saja tak sepanas di Indonesia tapi karena biasa berdingin-dingin ria tetap saja harus menghemat energi jika harus keluar rumah.
  
Kami sahur pagi-pagi sekali sekitar pukul 2.30-3.00 dan berbuka sekitar pukul 10.00 malam. Awalnya ada ketakutan, takut tidak kuat. Untunglah teman-teman berbagi tips bagaimana berpuasa yang nyaman. Kami harus benar-benar memperhatikan asupan makanan saat sahur terutama saat 3 hari pertama. Daging, susu, buah dan sayuran menjadi menu yang sangat diharapkan agar tetap sehat di sepanjang hari. Kami pun menyertakan madu agar memberikan daya tahan yang baik. Dekatnya saat buka dan sahur juka harus disiasati agar tak terlalu kenyang.

Puasa di sini memang tidak haus atau lapar (minimal bagi saya) tapi kalau salah asupan tiba-tiba bisamerasa lemas. Itu di hari-hari awal. Alhamdulillah setelah beberapa hari, puasa menjadi sangat ringan bahkan menu sahur pun tidak seketat di awal, walau tentu saja harus tetap diperhatikan.

Malam begitu pendek di sini. kalau menunggu Isya tentu akan larut malam. Karena waktu Isya sudah tengah malam. Untunglah Allah berikan kemudahan, kami di sini bisa shalat Maghrib, Isya dan Tarawih berdekatan tanpa perlu menunggu waktu Isya datang karena matahari di sini tak benar-benar tenggelam. Jadi jangan heran jam 11 malam langit barat tampak terang. Sayangnya kami sebaiknya shalat Tarawih di rumah karena sudah terlalu malam untuk keluar rumah, ini bisa berbahaya bagi keamanan.

Bagaimana kami mengobati rasa rindu dengan Indonesia? Kami menghidupkan televisi Indonesia lewat internet untunglah ada program Hafidz Indonesia yang bisa kami nikmati menjelang berbuka. Walau yang kami saksikan siaran ulang via MN..TV Muslim. Dzakka sering bertanya, "Ini sudah malam belum mi?" maklum malam di sini tidak terlalu gelap jadi dzakka sering bertanya. "Belum, kenapa?" jawab saya  "mau lihat kakak-kakak" ujarnya. Kami sekeluarga rela menunggu untuk melihat acara yang satu ini. 

Waktu buka di sini hampir sama dengan waktu sahur di Indonesia. Jadilah kami sering makan bersama dengan keluarga Indonesia (via skype). Kami sering bertanya menu satu dan lainnya, makan bersama, menu berbeda seolah satu meja :)

Sepekan sekali saya dan ibu-ibu dari indonesia berkumpul bersama. Saling berbagi dan belajar bersama. Kerinduan saya untuk bercengkrama dengan forum Al Qur'an pun terobati dengan forum Al Qur'an dari teman-teman Libya yang belakangan ini membantu saya. Dengan sabar mereka menanti hafalan saya yang terbata-bata dan tak banyak pula. Walau mereka berbicara dalam bahasa Arab dan sedikit bahasa Inggris saya sudah seperti bagian dari mereka. Kami banyak berbagi ilmu lintas negara :)

Radio internet menjadi alternatif lain bagi kami untuk menambah ilmu di sini. Alhamdulillah banyak juga obat rindu yang kami dapatkan di sini. Di mana pun berada, Ramadhan tetap indah seharusnya. Wallahua'lam.
Mohon doanya semoga Ramadhan kali ini menjadikan kami lebih baik dari tahun-tahun yang lalu. Semoga mendapat gelar taqwa. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar