Setiap ibu luar biasa. Walau tidak semua ibu dikagumi khalayak akan tetapi ada ruang istimewa bagi mereka di hati putra putrinya. Tak tertinggal pula ibuku tercinta. Beliau wanita sederhana yang tidak selesai meneruskan sekolah tingkat pertamanya. Meninggalkan bangku sekolah di tahun pertama karena terkendala biaya. Meskipun sempat mengharumkan sekolah dengan tulisannya sewaktu EBTANAS, ibuku ternyata harus menanggalkan cita-citanya dan akhirnya menikah di usia muda.
Ibuku tidak berharap banyak dari anak-anaknya. Beliau 'hanya' ingin kelak anak-anaknya akan lebih baik darinya. Walau tidak memiliki banyak pengetahuan sebagaimana para ibu kebanyakan, ibuku begitu gigih mengamalkan berbagai pengetahuan yang beliau ketahui. Inilah sisi keistimewaan ibu yang terus kukagumi hingga kini.
Aku tidak begitu yakin, dulu beliau mengetahui manfaat mendongeng bagi anak. Tapi hampir setiap malam kudengarkan dongengnya menjelang tidur. Mulai dari Si Kancil, Sangkuriang, Malin Kundang, Cendelaras, Bawang Merah Bawang Putih sampai kisah-kisah teladan nabi dan rasul. Ibuku orang pertama yang mengajariku berbagai kisah sebelum aku mendapatkannya dari sekolah. Darimana ibu mendapatkan cerita-cerita itu? dari buku-buku usang yang didapatkannya entah dari mana. Kadang ibu meminjam buku-buku bergambar dari para tetangga.
Ketika aku kecil, keluargaku tidak punya televisi bahkan sampai aku menikaha. Entah karena apa? mungkin itu tak dianggap penting. Walau dulu kami anak-anaknya begitu menginginkan tapi tak pernah beliau mencoba membelikannya. Bapak pun ternyata tak jauh beda. Mungkin karena tak ada biaya, bisa juga :)
Ibuku seperti ibu-ibu yang lain, banyak menasehati ini dan itu. Jangan ini dan jangan itu. Beliau sangat fokus terhadap hal-hal yang dilarang namun tak begitu banyak bicara untuk hal yang harus dilakukan kecuali urusan sholat lima waktu. Ibu tak memintaku untuk merutinkan sholat malam tapi seringkali kala kuterjaga dari tidur dan mencarinya, kulihatnya ibu sedang berdoa di atas sajadah.
Pagi hari adalah hari yang paling sibuk diantara hari-hari ibuku. Maklumlah beliau pedagang makanan yang harus menyiapkan aneka masakan. Sering saat aku membantunya ketika libur sekolah. Dengan tergesa-gesa beliau menyelesaikan masakannya padahal hari masih cukup pagi. Kukira ada apa, ternyata ibuku bergegas sholat Dhuha.
Ibuku selain berdagang makanan juga menjual es dawet. Minuman yang begitu menggoda kala dahaga. Tapi rupanya minuman itu tidak menggodanya, seringkali ibu berpuasa senin kamis bahkan kadang puasa Daud walau panas terik. Ah, mengingat itu semua malunya aku pada ibuku. Aku kini telah menjadi seorang ibu belumlah bisa mencontoh keteladanan beliau.
Walau punya beberapa kelebihan tapi ibuku juga punya banyak kekurangan sebagaimana manusia lain tentunya. Ibuku masih terbata-bata dalam membaca Al Qurán. Maklum sejak kecil beliau telah menjadi yatim. Saudaranya banyak, mungkin nenekku tak sempat mengajarkan itu semua. Tapi ibuku dan bapakku, bergantian hampir tiap malam mengantarkan ke rumah guru ngaji. Ditunggunya aku belajar sampai selesai.
Hingga kini ibuku masih belum begitu lancar membaca Al Qurán. mungkin masih begitu sulit untuk beliau. Tapi ibuku tak mau kalah dengan mereka yang sudah bisa membaca Al Qur'an. Kini beliau telah hafal surat Yassin, Asmaul Husna dan sedang mencoba menghafal surat Al Waqiáh. Beliau menghafal dengan melihat tulisan berbahasa Indonesia dan berganti menyamakannya dengan tulisan Arab untuk menghindari kesalahan menghafal. Sekali lagi aku malu untuk hal yang satu ini, ibuku jauh lebih bersemangat dariku.
Ibuku punya banyak kekurangan sebagaimana ibu pada umumnya tapi caranya mengajarkanku berbagai pengetahuan membuatku banyak belajar. Ibuku seringkali berpesan, jadilah engkau ikan hidup jangan menjadi ikan mati. Ikan yang hidup tidak terpengaruh oleh air asin seperti halnya ikan di lautan. Tapi ikan mati akan menjadi asin saat berada di air asin seperti ikan asin. Di mana pun engkau saat hatimu hidup tidak akan terpengaruh oleh lingkungan buruk disekitarmu.
Beliau juga mengajariku buah yang terbungkus dan buah yang terbuka, Buah yang terbungkus akan baik fisiknya, enak rasanya dan dicari orang keberadaannya. Buah yang terbuka akan dimakan codot (ulat), kelelawar, burung dan sebagainya. Pada akhirnya busuk dan akan dibuang. Pelajaran ini untuk membekaliku agar bisa menjaga diri dan memakai pakaian yang layak.
Bicara soal jasa dan kebaikan ibu tak pernah ada habisnya, begitu pun tentang jasa dan kebaikan bapak. Setiap anak mungkin akan merasakan itu, karena mereka begitu berharga. Dan kehadiran mereka jauh lebih berharga ketika kita telah menjadi orangtua.
Akhirnya, semoga pelajaran dari ibuku akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagiku khususnya dan bagi semua ibu umumnya. Semoga Allah mengangkat derajat yang tinggi bagi ibu dan bapakku dengan kemuliaan di dunia dan akherat. Aamiin.
Amin...subhanallah ibunda yang bersahaja namun penuh keteladanan.
BalasHapusTerimakasih bu, mhn doanya smg beliau istiqamah :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus