Ini sepenggal kisahnya. Seorang wanita yang kuat lagi menginspirasi, setidaknya itulah yang kutahu. Kini beliau tengah berbaring lemah dalam masa kritisnya. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kesembuhan untuknya. Aamiin.
Pertemuan kami hampir satu tahun lalu. Begitu lembut dan sabar itulah yang kutangkap pertama kali. Bicaranya santun dan ramah. Walau kami baru saling bertemu dan tidak saling mengerti bahasa satu dan lainnya tapi itu tak menghalangi kami untuk saling mengenal dan membina ukhuwah. Bahasa Inggris yang masih cukup terbatas begitu membantu komunikasi kami.
Usianya sekitar 50 tahunan. Dia berasal dari Libya sama seperti teman-teman lainnya. Hanya aku yang dari Indonesia. Teman-teman Indonesia yang lain mungkin sibuk ketika itu, sehingga sulit untuk bergabung dalam kelas ini. ''Kelas Al Qurán", begitu kami menyebutnya. Meski bukan pertemuan di dalam kelas yang kami jalani. Kami belajar di rumah salah seorang hafidzah dengan di temani para balita yang sering bercanda ria, ramai sekali. Di sinilah kami belajar membaca dan menghafal sedikit demi sedikit yang kami bisa.
Kembali tentang sang ibu. Ia datang dengan salah seorang anak gadisnya. Sebelumnya kukira keduanya teman. Eh ternyata ibu dan anak. Sama-sama cantik. Seperti kebanyakan orang Libya lainnya mereka berbahasa Arab dalam keseharian.
Hampir semua peserta berbahasa Arab di sini, dalam pikiranku sudah pasti mereka mahir menghafal Al Qurán. Namun kenyataan tak demikian. Aku dibuat terperangah ketika beberapa ibu muda membaca beberapa surat pendek dalam juz Amma. Bacaan mereka begitu berat dan terdapat kesalahan baca di sana sini.
Mereka berbahasa Arab mengapa begitu sulit membaca Al Quran? Aku bahkan gemes mendengarnya. Beberapa kali guru kami harus membenarkannya. Proses membetulkannya pun berulang-ulang. Terdengar kaku dan jauh dari fasih. Tanda tak mudah mempelajarinya. Tentu saja berbeda jauh dengan bacaan guru kami yang begitu fasih dan enak didengar.
Rasa penasaranku ternyata tergambar di wajahku. Mereka pun kemudian memberikan sedikit penjelasan. Bahwa Al Qurán berbeda, bahasanya sangat indah. Meski mereka terbiasa berbahasa Arab belum tentu mereka dapat memahami bahasa Al Qurán. Di sinilah letak keagungan Al Qur'an yang memang diperuntukkan untuk semua manusia. Masya Allah. Aku semakin mengagumi keistimewaan Al Qurán.
Satu persatu kami membaca dan menyetorkan hafalan. Si Gadis putri sang ibu menyetorkan bacaan dari awal-awal juz Amma. Aku sendiri memulainya dari surat Al Fatihah. Kini giliran sang ibu menyetorkan bacaannya. Ibu yang satu ini berbeda dengan kebanyakan teman satu bangsa di kelas ini. Beliau menyetorkan berlembar-lembar bacaan. Luaarr biasa. Bacaan yang panjang dan banyak sekali, dilafalkannya dengan lancar dan fasih. Di usianya yang 50 tahun. Beliau sangat berbeda..itulah yang terlintas dari pikiranku.
Tidak hanya menghafal satu surat panjang, beliau langsung menyetorkan hafalan dua sisi. Satu bagian dari surat bagian depan Al Qur'an dan satu lagi dari bagian belakang. Keduanya surat-surat panjang semisal surat Yassin. Begitu pekan demi pekan dilakukan. Malu.. begitulah yang kurasakan. Malu dengan semangatnya....ketekunannya...
Beberapa bukan terakhir beliau tidak lagi bergabung. Mungkin di waktu yang lain bersama anaknya yang berganti hari karena kesibukan belajarnya. Ditambah lagi rumah mereka kini pindah di luar kota dan harus naik kereta menuju kelas kami. Jadilah kami tak saling bertemu dalam waktu yang lama.
Pekan lalu guru kami memberitahu kalau si ibu melahirkan anak ke tujuhnya. Melahirkan? usia 50? Waow..sekali lagi aku terperanggah dan seolah tak percaya. Apalagi tidak melihat kehamilannya. Bayinya laki-laki. Sehat, begitu yang kami tahu. Tapi pekan ini kudengar berita yang sedih. Sang ibu kritis. Sangat sedih mendengarnya. Sekali lagi mohon doanya..
Ini hanya sepenggal kisah beliau. Semoga bisa mengambil pelajaran darinya.

merinding membacanya...pengalaman dimanakah?saya tidak menemukan seting lokasi.
BalasHapus